Live Stock Markets


9 Mei 2012

Margin Laba Bersih Sampoerna (HMSP)


Hanjaya Mandala Sampoerna (HMSP)emiten rokok pemilik pangsa pasar terbesar di Indonesia, mencatatkan peningkatan margin laba bersih sebesar 46 basis poin menjadi 15,26% pada 2011 dibandingkan margin laba bersih 2010 sebesar 14,80%.

Peningkatan margin profitabilitas hanya terjadi pada margin laba bersih sementara margin laba kotor dan margin laba usaha relatif stagnan di 2011.

Laba bersih perseroan sepanjang 2011 tercatat naik 25,56% menjadi Rp 8,06 triliun,dibandingkan perolehan laba bersih di 2010 sebesar Rp 6,42 triliun. Kenaikan laba bersih didorong peningkatan penjualan serta penghasilan lain-lain.

Sampoerna membukukan penjualan di 2011 sebesar Rp 52,8 triliun naik 21,8% dibanding 2010. Penjualan di 2010 mencapai Rp 43,3 triliun.

Penghasilan lain-lain diperoleh dari penjualan merek dagang di Malaysia Perseroan telah merestrukturisasi kegiatan usaha produksi rokok di Malaysia melalui Sampoerna Joo Lan Sdn Bhd seiring dengan diberlakukannya perjanjian ASEAN Free Trade Area (AFTA).

Sampoerna mencatatkan pertumbuhan penghasilan lain-lain yang cukup signifikan menjadi Rp 385 miliar di 2011 dibandingkan 2010 yang hanya Rp 30,41 miliar.

Kenaikan margin laba bersih perseroan di 2011 tidak didukung peningkatan margin laba kotor dan margin laba usaha.Margin laba kotor Sampoerna di 2011 berada di level 29,17%, stagnan dibanding 2010.Demikian juga dengan margin laba usaha pada tahun lalu yang stagnan di posisi 20,08%.

Hanjaya Mandala Sampoerna (HMSP)emiten rokok pemilik pangsa pasar terbesar di Indonesia, mencatatkan peningkatan margin laba bersih sebesar 46 basis poin menjadi 15,26% pada 2011 dibandingkan margin laba bersih 2010 sebesar 14,80%.

Peningkatan margin profitabilitas hanya terjadi pada margin laba bersih sementara margin laba kotor dan margin laba usaha relatif stagnan di 2011.

Laba bersih perseroan sepanjang 2011 tercatat naik 25,56% menjadi Rp 8,06 triliun,dibandingkan perolehan laba bersih di 2010 sebesar Rp 6,42 triliun. Kenaikan laba bersih didorong peningkatan penjualan serta penghasilan lain-lain.

Sampoerna membukukan penjualan di 2011 sebesar Rp 52,8 triliun naik 21,8% dibanding 2010. Penjualan di 2010 mencapai Rp 43,3 triliun.

Penghasilan lain-lain diperoleh dari penjualan merek dagang di Malaysia Perseroan telah merestrukturisasi kegiatan usaha produksi rokok di Malaysia melalui Sampoerna Joo Lan Sdn Bhd seiring dengan diberlakukannya perjanjian ASEAN Free Trade Area (AFTA).

Sampoerna mencatatkan pertumbuhan penghasilan lain-lain yang cukup signifikan menjadi Rp 385 miliar di 2011 dibandingkan 2010 yang hanya Rp 30,41 miliar.

Kenaikan margin laba bersih perseroan di 2011 tidak didukung peningkatan margin laba kotor dan margin laba usaha.Margin laba kotor Sampoerna di 2011 berada di level 29,17%, stagnan dibanding 2010.Demikian juga dengan margin laba usaha pada tahun lalu yang stagnan di posisi 20,08%.
»» Readmore

7 Mei 2012

Lippo Cikarang (LPCK) Bangun Mal


Lippo Cikarang Tbk (LPCK) akhir tahun ini berencana mengembangkan area komersial Lippo Cikarang Citywalk (LCC) tahap kedua.Perseroan sedang mematangkan desain dan konsep bangunan street mall tersebut namun investasinya diperkirakan lebih tinggi dibanding pengembangan sebelumnya sebesar Rp 50 miliar.

LCC tahap kedua akan dibangun di atas lahan seluas satu hektare dengan perkiraan investasi sedikit di atas pendanaan pembangunan LCC pertama sebesar Rp 50 miliar.Adapun luas area komersial yang akan disewakan berkisar 10 ribu sampai 15 ribu meter persegi.

Area komersial yang disewakan itu akan terdiri atas dua lantai dan jumlahnya lebih banyak dari LCC tahap pertama.Beberapa tenant yang beminat tengah menjajaki peluang berusaha dan akan buka di LCC tahap kedua tersebut. Tenant-tenant yang akan beroperasi di pusat belanja diperkirakan lebih banyak peritel sektor food and beverages.

Konsep LCC tahap kedua yang tengah disiapkan akan dibedakan dengan pusat perbelanjaan yang terbesar di kawasan Lippo Cikarang yang masih direncanakan.Di kawasan LCC ini direncanakan dapat dikembangkan sebagai kawasan terpadu yang juga akan hadir small office home office(SOHO) apartemen tempat rekreasi dan hotel.

Sudah ada investor yang membeli lahan untuk dijadikan hotel bintang empat dan dua hotel ekonomis (budget hotel). Dua budget hotel ini diperkirakan bernama Zuri Hotel dan Great Easton Hotel dengan masing-masing luas lahan sekitar 2 ribu dan 2.500 meter persegi.

Kedua hotel itu kemungkinan mulai dibangun pada tahun ini. Hotel Zuri direncanakan terdiri atas enam lantai dengan 200 kamar.Sedangkan Great Easton tengah menyelesaikan izin pembangunan sehingga diharapkan tahun depan ada dua hotel baru.Sementara hotel bintang empat kemungkinan dibangun tahun depan.

Saat ini LCC tahap pertama telah dibuka sejak Februari 2011 dengan pengunjung rata-rata 150 ribu – 200 ribu per bulan.Pengunjung ini mayoritas berasal dari penghuni perumahan di Lippo Cikarang yang berjumlah 30.000 orang dan karyawan dari 700 perusahaan yang menempati lahan seluas 1.600 hektare.

Lahan yang telah dikembangkan untuk area komersial mencapai 450 hektare yang berisi 800 unit ruko.Luas lahan untuk residensial telah dikembangkan seluas 450 hektare yang berisi 10.000 unit rumah.

Lippo Cikarang Tbk (LPCK) akhir tahun ini berencana mengembangkan area komersial Lippo Cikarang Citywalk (LCC) tahap kedua.Perseroan sedang mematangkan desain dan konsep bangunan street mall tersebut namun investasinya diperkirakan lebih tinggi dibanding pengembangan sebelumnya sebesar Rp 50 miliar.

LCC tahap kedua akan dibangun di atas lahan seluas satu hektare dengan perkiraan investasi sedikit di atas pendanaan pembangunan LCC pertama sebesar Rp 50 miliar.Adapun luas area komersial yang akan disewakan berkisar 10 ribu sampai 15 ribu meter persegi.

Area komersial yang disewakan itu akan terdiri atas dua lantai dan jumlahnya lebih banyak dari LCC tahap pertama.Beberapa tenant yang beminat tengah menjajaki peluang berusaha dan akan buka di LCC tahap kedua tersebut. Tenant-tenant yang akan beroperasi di pusat belanja diperkirakan lebih banyak peritel sektor food and beverages.

Konsep LCC tahap kedua yang tengah disiapkan akan dibedakan dengan pusat perbelanjaan yang terbesar di kawasan Lippo Cikarang yang masih direncanakan.Di kawasan LCC ini direncanakan dapat dikembangkan sebagai kawasan terpadu yang juga akan hadir small office home office(SOHO) apartemen tempat rekreasi dan hotel.

Sudah ada investor yang membeli lahan untuk dijadikan hotel bintang empat dan dua hotel ekonomis (budget hotel). Dua budget hotel ini diperkirakan bernama Zuri Hotel dan Great Easton Hotel dengan masing-masing luas lahan sekitar 2 ribu dan 2.500 meter persegi.

Kedua hotel itu kemungkinan mulai dibangun pada tahun ini. Hotel Zuri direncanakan terdiri atas enam lantai dengan 200 kamar.Sedangkan Great Easton tengah menyelesaikan izin pembangunan sehingga diharapkan tahun depan ada dua hotel baru.Sementara hotel bintang empat kemungkinan dibangun tahun depan.

Saat ini LCC tahap pertama telah dibuka sejak Februari 2011 dengan pengunjung rata-rata 150 ribu – 200 ribu per bulan.Pengunjung ini mayoritas berasal dari penghuni perumahan di Lippo Cikarang yang berjumlah 30.000 orang dan karyawan dari 700 perusahaan yang menempati lahan seluas 1.600 hektare.

Lahan yang telah dikembangkan untuk area komersial mencapai 450 hektare yang berisi 800 unit ruko.Luas lahan untuk residensial telah dikembangkan seluas 450 hektare yang berisi 10.000 unit rumah.
»» Readmore

6 Mei 2012

Laba bersih Fast Food (FAST)


Fast Food Indonesia (FAST)pengelola gerai makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC)pada kuartal I 2012 tercatat Rp 37,7 miliar naik 5% dibanding kuartal I 2011 yang sebesar Rp 35,9 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang ditandatangani Direktur Utama Fast Food.Laba bersih ini didorong oleh kenaikan penjualan  sebesar 18,2% menjadi Rp 857,4 miliar pada kuartal I 2012 dari Rp 725,4 miliar di kuartal I 2011.

Pertumbuhan laba perseroan tidak setinggi kenaikan penjualan karena beban pokok penjualan juga meningkat.Pada kuartal I 2012 perseroan mencatat beban pokok penjualan Rp 381,7 miliar,meningkat 22,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 311,6 miliar.

Peningkatan beban pokok penjualan tidak lepas dari pembelian bahan baku.Dalam tiga bulan,perseroan melakukan pembelian senilai Rp 403,4 miliar meningkat  25,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 320,7 miliar.

Sampai Maret 2012 perusahaan telah mengoperasikan 421 gerai restoran.Pada kuartal I dari rencana tiga hingga empat restoran.Terganggunya rencana perseroan akibat kesulitan dalam mendapatkan lahan serta izin untuk membuka restoran.

Ekspansi pembukaan restoran baru pada kuartal I dan kuartal II cenderung lebih rendah dibanding kuartal III dan kuartal IV.

Hal ini karena pencarian lokasi,perizinan peruntukkan lahan,termasuk perizinan pembangunan restoran baru dilakukan awal tahun sehingga izin baru diperoleh menjelang akhir tahun.

Fast Food menyiapkan belanja modal Rp 150 miliar untuk membiayai pembukaan 25-30 restoran baru di 2012.Anggaran tersebut termasuk untuk melakukan renovasi restoran dan perbaikan fasilitas setiap restoran yang sudah ada. Seluruh dana diperoleh dari kas internal.

Fast Food Indonesia (FAST)pengelola gerai makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC)pada kuartal I 2012 tercatat Rp 37,7 miliar naik 5% dibanding kuartal I 2011 yang sebesar Rp 35,9 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang ditandatangani Direktur Utama Fast Food.Laba bersih ini didorong oleh kenaikan penjualan  sebesar 18,2% menjadi Rp 857,4 miliar pada kuartal I 2012 dari Rp 725,4 miliar di kuartal I 2011.

Pertumbuhan laba perseroan tidak setinggi kenaikan penjualan karena beban pokok penjualan juga meningkat.Pada kuartal I 2012 perseroan mencatat beban pokok penjualan Rp 381,7 miliar,meningkat 22,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 311,6 miliar.

Peningkatan beban pokok penjualan tidak lepas dari pembelian bahan baku.Dalam tiga bulan,perseroan melakukan pembelian senilai Rp 403,4 miliar meningkat  25,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 320,7 miliar.

Sampai Maret 2012 perusahaan telah mengoperasikan 421 gerai restoran.Pada kuartal I dari rencana tiga hingga empat restoran.Terganggunya rencana perseroan akibat kesulitan dalam mendapatkan lahan serta izin untuk membuka restoran.

Ekspansi pembukaan restoran baru pada kuartal I dan kuartal II cenderung lebih rendah dibanding kuartal III dan kuartal IV.

Hal ini karena pencarian lokasi,perizinan peruntukkan lahan,termasuk perizinan pembangunan restoran baru dilakukan awal tahun sehingga izin baru diperoleh menjelang akhir tahun.

Fast Food menyiapkan belanja modal Rp 150 miliar untuk membiayai pembukaan 25-30 restoran baru di 2012.Anggaran tersebut termasuk untuk melakukan renovasi restoran dan perbaikan fasilitas setiap restoran yang sudah ada. Seluruh dana diperoleh dari kas internal.
»» Readmore

Emiten Alat Berat(INTA)


INTA Intraco Penta emiten alat berat membukukan kenaikan pendapatan sebesar 23,4% menjadi Rp 900,8 miliar di kuartal I 2012 dibanding periode yang sama 2011.Kenaikan pendapatan sebagian besar masih ditopang dari penjualan alat berat di sektor pertambangan dan suku cadang.

Penjualan alat berat tercatat naik 25,3% menjadi Rp 678,6 miliar di kuartal I 2012 dibanding periode yang sama pada 2011.Penjualan suku cadang juga naik 44,6% menjadi Rp 118 miliar.

Diperkirakan penjualan alat berat akan meningkat di kuartal II dan III ketika cuaca normal.Faktor cuaca ikut menentukan penjualan alat berat karena banyak proyek pertambangan dan konstruksi baru akan mengerjakan proyek dan menggunakan alat berat ketika kondisi cuaca sedang normal.

Intraco menargetkan penjualan alat berat tahun ini naik di 30%-40% dibanding realisasi penjualan 2011 sebanyak 1.580 unit.Sektor pertambangan batu bara dan konstruksi masih menjadi kontributor utama penjualan alat berat perseroan.

Selain dari penjualan alat berat pendapatan Intraco juga berasal dari kenaikan unit usaha pembiayaan sebesar 306% menjadi Rp 29,7 miliar dibanding periode yang sama di 2011Sementara dari usaha jasa dan manufaktur mencatat penurunan pendapatan.

Seiring kenaikan pendapatan beban pokok pendapatan Intraco Penta juga naik 18% menjadi Rp 746,5 miliar di kuartal I 2012.Kenaikan pendapatan yang lebih besar dibanding kenaikan beban membuat laba kotor Intraco naik 58,4% menjadi Rp 154,3 miliar.

Kenaikan beban penjualan dan beban keuangan.Juga kerugian akibat selisih nilai tukar membuat laba bersih Intraco Penta di kuartal I hanya naik 4% menjadi Rp 36,4 miliar

INTA Intraco Penta emiten alat berat membukukan kenaikan pendapatan sebesar 23,4% menjadi Rp 900,8 miliar di kuartal I 2012 dibanding periode yang sama 2011.Kenaikan pendapatan sebagian besar masih ditopang dari penjualan alat berat di sektor pertambangan dan suku cadang.

Penjualan alat berat tercatat naik 25,3% menjadi Rp 678,6 miliar di kuartal I 2012 dibanding periode yang sama pada 2011.Penjualan suku cadang juga naik 44,6% menjadi Rp 118 miliar.

Diperkirakan penjualan alat berat akan meningkat di kuartal II dan III ketika cuaca normal.Faktor cuaca ikut menentukan penjualan alat berat karena banyak proyek pertambangan dan konstruksi baru akan mengerjakan proyek dan menggunakan alat berat ketika kondisi cuaca sedang normal.

Intraco menargetkan penjualan alat berat tahun ini naik di 30%-40% dibanding realisasi penjualan 2011 sebanyak 1.580 unit.Sektor pertambangan batu bara dan konstruksi masih menjadi kontributor utama penjualan alat berat perseroan.

Selain dari penjualan alat berat pendapatan Intraco juga berasal dari kenaikan unit usaha pembiayaan sebesar 306% menjadi Rp 29,7 miliar dibanding periode yang sama di 2011Sementara dari usaha jasa dan manufaktur mencatat penurunan pendapatan.

Seiring kenaikan pendapatan beban pokok pendapatan Intraco Penta juga naik 18% menjadi Rp 746,5 miliar di kuartal I 2012.Kenaikan pendapatan yang lebih besar dibanding kenaikan beban membuat laba kotor Intraco naik 58,4% menjadi Rp 154,3 miliar.

Kenaikan beban penjualan dan beban keuangan.Juga kerugian akibat selisih nilai tukar membuat laba bersih Intraco Penta di kuartal I hanya naik 4% menjadi Rp 36,4 miliar
»» Readmore

5 Mei 2012

Arwana Citramulia(ARNA)


Arwana Citramulia(ARNA) menargetkan penjualan di 2012 naik 14% menjadi Rp 1,05 triliun dibanding realisasi pada 2011 seiring peningkatan kapasitas produksi.Selain peningkatan kapasitas produksi,peningkatan penjualan juga akan ditopang meningkatnya konsumsi keramik nasional.

Tahun ini total kapasitas produksi Arwana akan meningkat menjadi 41,37 juta meter persegi di 2012 dibanding pada 2011 sebesar 40,87 juta meter persegi.

Tahun lalu volume produksi Arwana sebesar 37,3 juta meter persegi dengan utilisasi produksi sebesar 91%.Arwana telah memiliki kapasitas produksi sebesar 42 juta meter persegi per tahun.

Dengan ekspansi pabrik Sumetera Selatan kapasitas produksi perseroan akan bertambah 7,7 juta meter persegi, sehingga secara total nantinya akan meningkatkan kapasitas produksi perseroan hingga mencapai 49 juta-50 juta meter persegi per tahun.

Perseroan  masih mempertimbangkan lokasi pembangunan pabrik baru tersebut antara Sumatera dan Kalimantan yang dekat dengan sarana infrastruktur gas.Hal ini disebabkan produksi keramik amat terkait dengan ketersediaan pasokan gas yang memadai.

Selain pembangunan pabrik baru Arwana juga melakukan ekspansi kapasitas pabrik 3 fase 3 yang menambah kapasitas produksi perseroan menjadi 41,4 juta meter persegi di 2012 dari 40,8 juta meter persegi di 2011.

Pengembangan kapasitas produksi dengan investasi berkelanjutan merupakan salah satu strategi perusahaan dalam mengantisipasi pertumbuhahan permintaan keramik dalan negeri.

Minimnya pasokan gas akan berdampak beberapa hal ke industri keramik seperti menghambat ekspansi dan pengembangan bisnis serta investasi.

Dari total kebutuhan industri sebesar 1.300 juta kaki kubik per hari (mmscfd) pasokan gas yang bisa disediakan  pemerintah hanya 700 mmscfd.Kurangnya pasokan gas masih menjadi kendala utama industri keramik

Selain masalah gas,kendala yang dihadapi industri keramik saat ini adalah terkait beberapa kebijakan yang bisa mempengaruhi biaya produksi.Kebijakan tersebut antara lain  rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, tarif listrik dan harga gas di kuartal II.

Arwana juga menargetkan laba kotor tahun ini naik 13% menjadi Rp 342,04 miliar dibanding tahun lalu serta laba bersih naik 20% menjadi Rp 114,24 miliar.

Tahun lalu Arwana membukukan kenaikan laba kotor sebesar 7,88% menjadi Rp 285,8 miliar dibanding realisasi pada 2010 atau di bawah pertumbuhan penjualan. Hal ini disebabkan adanya kenaikan biaya produksi akibat kenaikan biaya energi terutama gas.

Pemberlakuan kenaikan harga gas industri di wilayah Jawa Timur sejak akhir 2011 yang didistribusikan oleh Perusahaan Gas Negara(PGAS) telah berdampak pada perseroan.

Arwana Citramulia(ARNA) menargetkan penjualan di 2012 naik 14% menjadi Rp 1,05 triliun dibanding realisasi pada 2011 seiring peningkatan kapasitas produksi.Selain peningkatan kapasitas produksi,peningkatan penjualan juga akan ditopang meningkatnya konsumsi keramik nasional.

Tahun ini total kapasitas produksi Arwana akan meningkat menjadi 41,37 juta meter persegi di 2012 dibanding pada 2011 sebesar 40,87 juta meter persegi.

Tahun lalu volume produksi Arwana sebesar 37,3 juta meter persegi dengan utilisasi produksi sebesar 91%.Arwana telah memiliki kapasitas produksi sebesar 42 juta meter persegi per tahun.

Dengan ekspansi pabrik Sumetera Selatan kapasitas produksi perseroan akan bertambah 7,7 juta meter persegi, sehingga secara total nantinya akan meningkatkan kapasitas produksi perseroan hingga mencapai 49 juta-50 juta meter persegi per tahun.

Perseroan  masih mempertimbangkan lokasi pembangunan pabrik baru tersebut antara Sumatera dan Kalimantan yang dekat dengan sarana infrastruktur gas.Hal ini disebabkan produksi keramik amat terkait dengan ketersediaan pasokan gas yang memadai.

Selain pembangunan pabrik baru Arwana juga melakukan ekspansi kapasitas pabrik 3 fase 3 yang menambah kapasitas produksi perseroan menjadi 41,4 juta meter persegi di 2012 dari 40,8 juta meter persegi di 2011.

Pengembangan kapasitas produksi dengan investasi berkelanjutan merupakan salah satu strategi perusahaan dalam mengantisipasi pertumbuhahan permintaan keramik dalan negeri.

Minimnya pasokan gas akan berdampak beberapa hal ke industri keramik seperti menghambat ekspansi dan pengembangan bisnis serta investasi.

Dari total kebutuhan industri sebesar 1.300 juta kaki kubik per hari (mmscfd) pasokan gas yang bisa disediakan  pemerintah hanya 700 mmscfd.Kurangnya pasokan gas masih menjadi kendala utama industri keramik

Selain masalah gas,kendala yang dihadapi industri keramik saat ini adalah terkait beberapa kebijakan yang bisa mempengaruhi biaya produksi.Kebijakan tersebut antara lain  rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, tarif listrik dan harga gas di kuartal II.

Arwana juga menargetkan laba kotor tahun ini naik 13% menjadi Rp 342,04 miliar dibanding tahun lalu serta laba bersih naik 20% menjadi Rp 114,24 miliar.

Tahun lalu Arwana membukukan kenaikan laba kotor sebesar 7,88% menjadi Rp 285,8 miliar dibanding realisasi pada 2010 atau di bawah pertumbuhan penjualan. Hal ini disebabkan adanya kenaikan biaya produksi akibat kenaikan biaya energi terutama gas.

Pemberlakuan kenaikan harga gas industri di wilayah Jawa Timur sejak akhir 2011 yang didistribusikan oleh Perusahaan Gas Negara(PGAS) telah berdampak pada perseroan.
»» Readmore

4 Mei 2012

Harga Jual Perusahaan Gas


Perusahaan Gas Negara(PGAS)badan usaha milik  negara di sektor distribusi dan transmisi gas hingga kuartal I 2012 mencatatkan peningkatan pendapatan 8,88% menjadi US$ 582,1 juta.

Year-on-year dari US$ 534,6 juta didorong kenaikan harga jual gas ke konsumen.Kenaikan itu seiring dengan meningkatnya harga beli gas perseroan dari produsen gas.

Hingga akhir Maret 2012 Perusahaan Gas mendistribusikan gas sebanyak 787 juta kaki kubik per hari (mmscfd) relatif stagnan dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 780 juta kaki kubik per hari.

Segmen utama distribusi gas berasal dari sektor pembangkit lisrtrik dan industri non pembangkit listrik serta komersial dan rumah tangga.

Volume transmisi penyaluran gas sebesar 861 juta kaki kubik per hari dibandingkan tahun lalu 860 juta kaki kubik per hari yang sebagian besar pengelolaannya dilakukan PT Transportasi Gas Indonesia.

Perseroan mencatatkan laba operasi US$ 276,5 juta naik dibanding periode sama tahun lalu US$ 256,8 juta.Laba sebelum pajak,depresiasi dan amortisasi (EBITDA) juga naik menjadi US$ 321,4 juta dari US$ 303,2 juta.

PGAS merencanakan tambahan pasokan gas baru yang jadwal pengalirannya sesuai dari pihak hulu pada 2012 untuk wilayah Jawa Timur.

Perusahaan Gas akhir tahun  2011 menaikkan harga jual gas ke pelanggan industri dan komersial di wilayah Jawa Timur rata-rata sebesar 36%. Kenaikan harga jual di Jawa Timur untuk menyesuaikan kenaikan harga beli dari pemasok sementara  biaya layanan tidak naik.

Perusahaan Gas Negara(PGAS)badan usaha milik  negara di sektor distribusi dan transmisi gas hingga kuartal I 2012 mencatatkan peningkatan pendapatan 8,88% menjadi US$ 582,1 juta.

Year-on-year dari US$ 534,6 juta didorong kenaikan harga jual gas ke konsumen.Kenaikan itu seiring dengan meningkatnya harga beli gas perseroan dari produsen gas.

Hingga akhir Maret 2012 Perusahaan Gas mendistribusikan gas sebanyak 787 juta kaki kubik per hari (mmscfd) relatif stagnan dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 780 juta kaki kubik per hari.

Segmen utama distribusi gas berasal dari sektor pembangkit lisrtrik dan industri non pembangkit listrik serta komersial dan rumah tangga.

Volume transmisi penyaluran gas sebesar 861 juta kaki kubik per hari dibandingkan tahun lalu 860 juta kaki kubik per hari yang sebagian besar pengelolaannya dilakukan PT Transportasi Gas Indonesia.

Perseroan mencatatkan laba operasi US$ 276,5 juta naik dibanding periode sama tahun lalu US$ 256,8 juta.Laba sebelum pajak,depresiasi dan amortisasi (EBITDA) juga naik menjadi US$ 321,4 juta dari US$ 303,2 juta.

PGAS merencanakan tambahan pasokan gas baru yang jadwal pengalirannya sesuai dari pihak hulu pada 2012 untuk wilayah Jawa Timur.

Perusahaan Gas akhir tahun  2011 menaikkan harga jual gas ke pelanggan industri dan komersial di wilayah Jawa Timur rata-rata sebesar 36%. Kenaikan harga jual di Jawa Timur untuk menyesuaikan kenaikan harga beli dari pemasok sementara  biaya layanan tidak naik.
»» Readmore

2 Mei 2012

Mitra Adiperkasa (MAPI)



Mitra Adiperkasa (MAPI) emiten ritel pemegang lebih dari 100 merek bertaraf  internasional mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 79% menjadi Rp 360 miliar pada 2011 dibandingkan Rp 201 miliar pada 2010.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan ekspansi gerai milik Mitra Adiperkasa yang naik 14% dibanding periode 2010.

Sepanjang 2011 perusahaan menambah sekitar 190 gerai baru termasuk di antaranya konsep ritel baru yaitu Max&Co,Stradivarius,Bershka, andora,New Look,BCBC Maxazria,Payless,Travelogue.

Masih akan ada beberapa brand lagi yang akan masuk tahun ini. Selama Januari hingga Maret tahun ini baru mendatangkan Spanx dan DKNY.

Pertumbuhan gerai yang positif tersebut juga sebagai dampak dari meningkatnya daya beli masyarakat khususnya kelas menengah.

Berdasarkan laporan keuangan 2011 penjualan bersih Mitra Adiperkasa mencapai Rp 5,89 triliun tumbuh 25% dibanding 2010 sebesar Rp 4,71 triliun.

Hingga 31 Desember 2011 luas area ritel Mitra Adiperkasa mencapai 465.140 meter persegi dengan total 1.044 gerai di seluruh Indonesia yang terdiri dari empat segmen yaitu department store sebanyak 33 gerai,speciality store 792 gerai,food & beverage 216 gerai,dan tiga gerai lain-lain.

Laporan keuangan perusahaan menyebutkan segmen speciality store memberi kontribusi tertinggi bagi penjualan konsolidasi 2011 yaitu 60% atau Rp 3,53 triliun segmen department store 25% atau Rp 1,47 triliun.
Food & beverage 12% atau Rp 706,8 miliar dan sisanya segmen lain-lain sebesar 3%.

Mitra Adiperkasa menargetkan pertumbuhan penjualan antara 20%-25% di 2012.Hingga Maret 2012 ekspansi pembukaan gerai baru yang sudah terealisasi sebanyak 18 gerai terdiri dari empat departement store,empat gerai speciality store,10 gerai food & beverage.

Perekonomian sepanjang 2012 masih tetap akan membaik meskipun terjadi kenaikan harga bahan bakar di awal kuartal II dan III..Kenaikan harga bahan bakar tersebut juga diprediksi tidak akan mengoreksi target penjualan konsolidasi yang ditetapkan perusahaan.


Mitra Adiperkasa (MAPI) emiten ritel pemegang lebih dari 100 merek bertaraf  internasional mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 79% menjadi Rp 360 miliar pada 2011 dibandingkan Rp 201 miliar pada 2010.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan ekspansi gerai milik Mitra Adiperkasa yang naik 14% dibanding periode 2010.

Sepanjang 2011 perusahaan menambah sekitar 190 gerai baru termasuk di antaranya konsep ritel baru yaitu Max&Co,Stradivarius,Bershka, andora,New Look,BCBC Maxazria,Payless,Travelogue.

Masih akan ada beberapa brand lagi yang akan masuk tahun ini. Selama Januari hingga Maret tahun ini baru mendatangkan Spanx dan DKNY.

Pertumbuhan gerai yang positif tersebut juga sebagai dampak dari meningkatnya daya beli masyarakat khususnya kelas menengah.

Berdasarkan laporan keuangan 2011 penjualan bersih Mitra Adiperkasa mencapai Rp 5,89 triliun tumbuh 25% dibanding 2010 sebesar Rp 4,71 triliun.

Hingga 31 Desember 2011 luas area ritel Mitra Adiperkasa mencapai 465.140 meter persegi dengan total 1.044 gerai di seluruh Indonesia yang terdiri dari empat segmen yaitu department store sebanyak 33 gerai,speciality store 792 gerai,food & beverage 216 gerai,dan tiga gerai lain-lain.

Laporan keuangan perusahaan menyebutkan segmen speciality store memberi kontribusi tertinggi bagi penjualan konsolidasi 2011 yaitu 60% atau Rp 3,53 triliun segmen department store 25% atau Rp 1,47 triliun.
Food & beverage 12% atau Rp 706,8 miliar dan sisanya segmen lain-lain sebesar 3%.

Mitra Adiperkasa menargetkan pertumbuhan penjualan antara 20%-25% di 2012.Hingga Maret 2012 ekspansi pembukaan gerai baru yang sudah terealisasi sebanyak 18 gerai terdiri dari empat departement store,empat gerai speciality store,10 gerai food & beverage.

Perekonomian sepanjang 2012 masih tetap akan membaik meskipun terjadi kenaikan harga bahan bakar di awal kuartal II dan III..Kenaikan harga bahan bakar tersebut juga diprediksi tidak akan mengoreksi target penjualan konsolidasi yang ditetapkan perusahaan.
»» Readmore

26 April 2012

Ultrajaya Milk Industry and Trading Company


Ultrajaya Milk Industry and Trading Company(ULTJ)emiten produsen minuman ultra high temperature susu dan konsentrat buah mengalokasikan dana belanja modal sebesar Rp 60 miliar tahun ini untuk pembelianmesin.Pembelian mesin dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan produksi perseroan di 2012.

Dana pembelian mesin bersumber dari kas internal perseroan.Permesinan dibeli dari luar negeri dan akan digunakan untuk memproduksi susu ultra high temperature.Tahun ini kapasitas produksi susu ultra high temperature Ultrajaya ditargetkan mencapai 260 juta liter.

Pertumbuhan penjualan Ultrajaya per tahun (CAGR)periode 2007-2011 mencapai 17% pertumbuhan yang cukup tinggi dan bahkan stabil bertumbuh

Belanja modal yang dialokasikan Ultrajaya setiap tahun mendorong pertumbuhan penjualan perusahaan.

Peningkatan kapasitas produksi yang dilakukan oleh Ultrajaya secara agresif dilakukan seiring dengan prospektifnya permintaan minuman susu jenis ultra high temperature.Beralihnya pola konsumsi masyarakat dari susu bubuk ke susu cair mendorong penjualan susu cair naik.

Pemenuhan kebutuhan dana ekspansi kapasitas akan berasal dari internal perusahaan.Posisi kas Ultrajaya hingga akhir 2011 mencapai Rp 242 miliar.Hal ini menunjukkan posisi kas perusahaan mencukupi untuk pemenuhan dana kebutuhan ekspansi kapasitas Ultrajaya di 2012.

Pada 2011 Ultrajaya menganggarkan belanja modal senilai Rp 100 miliar untuk pembelian mesin dan peralatan robotik untuk meningkatkan produksi.

Penambahan mesin dan peralatan robotik akan menambah produksi perusahaan pada 2012 setelah semua proses instalasi dan percobaan (trial) selesai dilakukan.

Pada 2010 belanja modal Ultrajaya juga dialokasikan untuk peningkatan kapasitas produksi. Ultrajaya membangun pabrik baru seluas 15 ribu meter persegi pada 2010 melakukan penambahan peralatan robotik penambahan dan penggantian mesin-mesin produksi serta penambahan pengolahan limbah dengan kapasitas 60 ribu meter kubik

Beberapa produsen susu di Indonesia juga akan menaikkan kapasitas produksinya untuk memenuhi peningkatan permintaan susu ultra high temperature.

Indofood Sukses Makmur(ICBP) melalui anak usaha yang menjalankan bisnis susu perseroan yakni PT Indolakto juga meningkatkan kapasitas produksi dengan membangun pabrik di Pasuruan Jawa Timur.

Kapasitas produksi susu olahan Indofood CBP akan meningkat sebesar 40% pada kuartal II 2013, seiring mulai efektifnya produksi pabrik baru perseroan di Pasuruan.Pembangunan pabrik tersebut telah dimulai sejak Maret tahun lalu.Untuk tahap awal pembangunan pabrik tersebut akan selesai pada kuartal IV tahun ini.

Tahap akhir pembangunan pabrik tersebut ditargetkan selesai pada kuartal II 2013 sehingga dapat menambah kapasitas produksi sebesar 40% pada periode tersebut.Dengan keberadaan pabrik baru ini Indofood berharap dapat memenuhi peningkatan permintaan konsumen.



Ultrajaya Milk Industry and Trading Company(ULTJ)emiten produsen minuman ultra high temperature susu dan konsentrat buah mengalokasikan dana belanja modal sebesar Rp 60 miliar tahun ini untuk pembelianmesin.Pembelian mesin dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan produksi perseroan di 2012.

Dana pembelian mesin bersumber dari kas internal perseroan.Permesinan dibeli dari luar negeri dan akan digunakan untuk memproduksi susu ultra high temperature.Tahun ini kapasitas produksi susu ultra high temperature Ultrajaya ditargetkan mencapai 260 juta liter.

Pertumbuhan penjualan Ultrajaya per tahun (CAGR)periode 2007-2011 mencapai 17% pertumbuhan yang cukup tinggi dan bahkan stabil bertumbuh

Belanja modal yang dialokasikan Ultrajaya setiap tahun mendorong pertumbuhan penjualan perusahaan.

Peningkatan kapasitas produksi yang dilakukan oleh Ultrajaya secara agresif dilakukan seiring dengan prospektifnya permintaan minuman susu jenis ultra high temperature.Beralihnya pola konsumsi masyarakat dari susu bubuk ke susu cair mendorong penjualan susu cair naik.

Pemenuhan kebutuhan dana ekspansi kapasitas akan berasal dari internal perusahaan.Posisi kas Ultrajaya hingga akhir 2011 mencapai Rp 242 miliar.Hal ini menunjukkan posisi kas perusahaan mencukupi untuk pemenuhan dana kebutuhan ekspansi kapasitas Ultrajaya di 2012.

Pada 2011 Ultrajaya menganggarkan belanja modal senilai Rp 100 miliar untuk pembelian mesin dan peralatan robotik untuk meningkatkan produksi.

Penambahan mesin dan peralatan robotik akan menambah produksi perusahaan pada 2012 setelah semua proses instalasi dan percobaan (trial) selesai dilakukan.

Pada 2010 belanja modal Ultrajaya juga dialokasikan untuk peningkatan kapasitas produksi. Ultrajaya membangun pabrik baru seluas 15 ribu meter persegi pada 2010 melakukan penambahan peralatan robotik penambahan dan penggantian mesin-mesin produksi serta penambahan pengolahan limbah dengan kapasitas 60 ribu meter kubik

Beberapa produsen susu di Indonesia juga akan menaikkan kapasitas produksinya untuk memenuhi peningkatan permintaan susu ultra high temperature.

Indofood Sukses Makmur(ICBP) melalui anak usaha yang menjalankan bisnis susu perseroan yakni PT Indolakto juga meningkatkan kapasitas produksi dengan membangun pabrik di Pasuruan Jawa Timur.

Kapasitas produksi susu olahan Indofood CBP akan meningkat sebesar 40% pada kuartal II 2013, seiring mulai efektifnya produksi pabrik baru perseroan di Pasuruan.Pembangunan pabrik tersebut telah dimulai sejak Maret tahun lalu.Untuk tahap awal pembangunan pabrik tersebut akan selesai pada kuartal IV tahun ini.

Tahap akhir pembangunan pabrik tersebut ditargetkan selesai pada kuartal II 2013 sehingga dapat menambah kapasitas produksi sebesar 40% pada periode tersebut.Dengan keberadaan pabrik baru ini Indofood berharap dapat memenuhi peningkatan permintaan konsumen.


»» Readmore

Produsen Makanan


Dua emiten produsen makanan Nippon Indosari Corpindo (ROTI),Mayora Indah(MYOR)akan menaikkan harga jual hingga 10% tahun ini.Kenaikan harga jual dilakukan seiring peningkatan biaya produksi.

Nippon Indosari emiten produsen roti yang tidak memiliki kompetitor sejenis di PT Bursa Efek Indonesia, mulai menaikkan harga jual berkisar 8%-10% pada 1 April 2011.Kenaikan harga jual didorong peningkatan biaya produksi seiring naiknya harga gas,harga bahan baku dan upah pekerja.Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga ikut mempengaruhi biaya produksi.

Faktor-faktor tersebut mempengaruhi biaya produksi terutama harga bahan baku.Komponen bahan baku berkontribusi sebesar 40%-50% terhadap biaya produksi Nippon Indosari.

Mayora Indah emiten produsen biskuit,permen dan wafer juga berencana menaikkan harga jual sekitar 5%-10% tahun ini.Kenaikan harga jual akan mendorong pertumbuhan nilai penjualan perseroan di 2012.

Mayora Indah menargetkan penjualan mencapai Rp 11,42 triliun di 2012 naik 20,8% dibanding penjualan 2011 sebesar Rp 9,45 triliun.

Kenaikan harga jual sebagai penyesuaian dengan kompetitor serta mengikuti kenaikan harga bahan baku dan bahan kemasan.

Biaya produksi Mayora Indah meningkat 41% tahun lalu didorong oleh naiknya biaya bahan baku dan pembungkus hingga 44% menjadi Rp 6,7 triliun di 2011 dari tahun sebelumnya Rp 4,6 triliun.

Hal ini karena biaya bahan baku dan pembungkus berkontribusi hingga 86% terhadap biaya produksi. Biaya overhead yang berkontribusi 10% pada biaya produksi juga meningkat hingga 22% yang disebabkan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) industri dan gas industri.

Biaya bahan baku dan kemasan Nippon Indosari yang meningkat 35% di 2011 juga mendorong peningkatan beban produksi.Biaya bahan baku dan kemasan berkontribusi hingga 77% dari biaya produksi.Beban pabrikasi Nippon Indosari juga meningkat 28% yang didorong oleh naiknya bahan bakar industri.

Naiknya biaya produksi telah menekan margin kotor Mayora Indah maupun Nippon Indosari tahun lalu.Margin kotor Mayora Indah turun menjadi 17,5% di 2011 dari tahun sebelumnya 23,6%.

Margin kotor Nippon Indosari juga turun tipis menjadi 46,7% di 2011 dari tahun sebelumnya 47,2%.Hal ini menjadikan produsen makanan menaikkan harga jual produknya hingga 10% untuk memperbaiki tingkat marginnya di 2012.
 


Dua emiten produsen makanan Nippon Indosari Corpindo (ROTI),Mayora Indah(MYOR)akan menaikkan harga jual hingga 10% tahun ini.Kenaikan harga jual dilakukan seiring peningkatan biaya produksi.

Nippon Indosari emiten produsen roti yang tidak memiliki kompetitor sejenis di PT Bursa Efek Indonesia, mulai menaikkan harga jual berkisar 8%-10% pada 1 April 2011.Kenaikan harga jual didorong peningkatan biaya produksi seiring naiknya harga gas,harga bahan baku dan upah pekerja.Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga ikut mempengaruhi biaya produksi.

Faktor-faktor tersebut mempengaruhi biaya produksi terutama harga bahan baku.Komponen bahan baku berkontribusi sebesar 40%-50% terhadap biaya produksi Nippon Indosari.

Mayora Indah emiten produsen biskuit,permen dan wafer juga berencana menaikkan harga jual sekitar 5%-10% tahun ini.Kenaikan harga jual akan mendorong pertumbuhan nilai penjualan perseroan di 2012.

Mayora Indah menargetkan penjualan mencapai Rp 11,42 triliun di 2012 naik 20,8% dibanding penjualan 2011 sebesar Rp 9,45 triliun.

Kenaikan harga jual sebagai penyesuaian dengan kompetitor serta mengikuti kenaikan harga bahan baku dan bahan kemasan.

Biaya produksi Mayora Indah meningkat 41% tahun lalu didorong oleh naiknya biaya bahan baku dan pembungkus hingga 44% menjadi Rp 6,7 triliun di 2011 dari tahun sebelumnya Rp 4,6 triliun.

Hal ini karena biaya bahan baku dan pembungkus berkontribusi hingga 86% terhadap biaya produksi. Biaya overhead yang berkontribusi 10% pada biaya produksi juga meningkat hingga 22% yang disebabkan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) industri dan gas industri.

Biaya bahan baku dan kemasan Nippon Indosari yang meningkat 35% di 2011 juga mendorong peningkatan beban produksi.Biaya bahan baku dan kemasan berkontribusi hingga 77% dari biaya produksi.Beban pabrikasi Nippon Indosari juga meningkat 28% yang didorong oleh naiknya bahan bakar industri.

Naiknya biaya produksi telah menekan margin kotor Mayora Indah maupun Nippon Indosari tahun lalu.Margin kotor Mayora Indah turun menjadi 17,5% di 2011 dari tahun sebelumnya 23,6%.

Margin kotor Nippon Indosari juga turun tipis menjadi 46,7% di 2011 dari tahun sebelumnya 47,2%.Hal ini menjadikan produsen makanan menaikkan harga jual produknya hingga 10% untuk memperbaiki tingkat marginnya di 2012.
 

»» Readmore

25 April 2012

Indofarma



Indofarma(INAF)emiten farmasi milik negara meraih penjualan sebesar Rp 111,18 miliar di kuartal I 2012 meningkat 49,5% dibanding penjualan kuartal I tahun lalu Rp 74,35 miliar.Pertumbuhan tersebut didorong volume penjualan seiring kenaikan konsumsi obat.

Pertumbuhan penjualan pada kuartal I 2012 hampir seluruhnya dikontribusi oleh segmen penjualan reguler.Pertumbuhan penjualan juga didukung penambahan distributor pada 2012 yakni PT Sawah Besar dan PT Mensa Bina Sukses sehingga memperluas jaringan pemasaran perseroan.

Penjualan sistem cluster akan memacu penjualan perusahaan dari sisi volume.Hal itu seiring tren pertumbuhan industri farmasi saat ini yang lebih banyak didorong peningkatan volume penjualan daripada harga jual.

Pertumbuhan nilai penjualan Indofarma pada kuartal I 2012 juga seiring kenaikan harga jual obat generik berkisar 10%-15%.Kenaikan tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan margin produk yang selama ini memiliki margin negatif.

Peningkatan penjualan menjadikan perseroan optimistis mencapai target pertumbuhan penjualan hingga akhir 2011 sebesar 25% menjadi Rp 1,5 triliun dibanding 2011.




Pada 2012 perseroan menargetkan komposisi sebesar 60% dari penjualan reguler dan 40% daripendapatan tender pemerintah.Porsi penjualan akan terus ditingkatkan hingga 2014 seiring pemberlakuan Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Indofarma menerapkan strategi memperbesar porsi penjualan dari segmen reguler untuk menjaga persaingan dalam industri obat generik nasional, khususnya menghadapi persaingan dengan produsen asing.Indofarma tahun ini mengalokasikan dana belanja modal untuk mengembangkan fasilitas produksi obat generik agar mampu bersaing dalam jangka panjang.

Pada 2012 perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 100 miliar yang berasal dari pinjaman Bank Mandiri(BMRI).Belanja modal tersebut akan digunakan untuk penambahan fasilitas produksi perseroan yakni mesin produksi tablet dan mesin injeksi yang diimpor dari Italia.

Kimia Farma(KAEF)emiten farmasi milik negara,juga berencana membangun pabrik injeksi yang memproduksi obat corticosteroid dalam bentuk injeksi dan produk-produk hospital solutions.

Pembangunan pabrik ini merupakan hasil joint venture dengan Tianjin Pharmaceutical Group Co Ltd, yang dimiliki pemerintah China serta PT Tigaka Distrindo Perkasa.

Pembangunan pabrik ini diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp 250 miliar dan akan dimulai pada 2013.





Indofarma(INAF)emiten farmasi milik negara meraih penjualan sebesar Rp 111,18 miliar di kuartal I 2012 meningkat 49,5% dibanding penjualan kuartal I tahun lalu Rp 74,35 miliar.Pertumbuhan tersebut didorong volume penjualan seiring kenaikan konsumsi obat.

Pertumbuhan penjualan pada kuartal I 2012 hampir seluruhnya dikontribusi oleh segmen penjualan reguler.Pertumbuhan penjualan juga didukung penambahan distributor pada 2012 yakni PT Sawah Besar dan PT Mensa Bina Sukses sehingga memperluas jaringan pemasaran perseroan.

Penjualan sistem cluster akan memacu penjualan perusahaan dari sisi volume.Hal itu seiring tren pertumbuhan industri farmasi saat ini yang lebih banyak didorong peningkatan volume penjualan daripada harga jual.

Pertumbuhan nilai penjualan Indofarma pada kuartal I 2012 juga seiring kenaikan harga jual obat generik berkisar 10%-15%.Kenaikan tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan margin produk yang selama ini memiliki margin negatif.

Peningkatan penjualan menjadikan perseroan optimistis mencapai target pertumbuhan penjualan hingga akhir 2011 sebesar 25% menjadi Rp 1,5 triliun dibanding 2011.




Pada 2012 perseroan menargetkan komposisi sebesar 60% dari penjualan reguler dan 40% daripendapatan tender pemerintah.Porsi penjualan akan terus ditingkatkan hingga 2014 seiring pemberlakuan Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Indofarma menerapkan strategi memperbesar porsi penjualan dari segmen reguler untuk menjaga persaingan dalam industri obat generik nasional, khususnya menghadapi persaingan dengan produsen asing.Indofarma tahun ini mengalokasikan dana belanja modal untuk mengembangkan fasilitas produksi obat generik agar mampu bersaing dalam jangka panjang.

Pada 2012 perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 100 miliar yang berasal dari pinjaman Bank Mandiri(BMRI).Belanja modal tersebut akan digunakan untuk penambahan fasilitas produksi perseroan yakni mesin produksi tablet dan mesin injeksi yang diimpor dari Italia.

Kimia Farma(KAEF)emiten farmasi milik negara,juga berencana membangun pabrik injeksi yang memproduksi obat corticosteroid dalam bentuk injeksi dan produk-produk hospital solutions.

Pembangunan pabrik ini merupakan hasil joint venture dengan Tianjin Pharmaceutical Group Co Ltd, yang dimiliki pemerintah China serta PT Tigaka Distrindo Perkasa.

Pembangunan pabrik ini diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp 250 miliar dan akan dimulai pada 2013.



»» Readmore
www.e-referrer.com